Minggu, 2009 April 12

Nasehat Pendidikan Anak



JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN CELAAN, MAKA ANAK BELAJAR MEMAKI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN PERMUSUHAN, MAKA ANAK AKAN BELAJAR BERKELAHI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN CEMOOHAN, MAKA ANAK AKAN MEMPUNYAI SIFAT RENDAH DIRI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN PENGHINAAN, MAKA ANAK AKAN MENYESALI DIRI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN TOLERANSI, MAKA ANAK AKAN PANDAI MENGENDALIKAN DIRI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN MOTIVASI, MAKA ANAK AKAN BELAJAR PERCAYA DIRI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN KELEMBUTAN, MAKA ANAK AKAN PANDAI MENGHARGAI

JIKA ANAK DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK, MAKA ANAK AKAN BELAJAR TENTANG KEADILAN

JIKA ANAK DIPERLAKUKAN DENGAN AMAN, MAKA ANAK AKAN BELAJAR PERCAYA

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN DUKUNGAN, MAKA ANAK AKAN BELAJAR MENGHARGAI DIRI SENDIRI

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN KASIH SAYANG DAN PERSAHABATAN, MAKA ANAK AKAN MENEMUKAN CINTA DALAM KEHIDUPAN
Read More..

Rabu, 2008 Desember 24

Juminten..Juminten



Satu hari Sultan merasa sungguh boring dan bete abis, jadi dia tanya si Kasim, “Kasimku, siapa paling pandai saat ini?”

“Abunawas, Tuanku.” jawab si Kasim.

Sultan pun manggil Abunawas dan baginda bertitah, “Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata mesti dimulai dengan huruf ‘J’.”

Abunawas terperanjat, tapi setelah berpikir, dia pun mulai bercerita:

Jeng Juminten janda judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogja-Jakarta. Jamu jagoannya: jamu jahe. “Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!”

Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.

Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten jerit-jerit: “Jarikku jatuh, jarikku jatuh…”

Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.

Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten janda judes jadi jedag-jedug.

Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.

Johny justru jadi jealous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget.

“Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?” joke-nya Johny. Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten.

“Jangan jealous, John…” jawab Juminten.

Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: “Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!”

Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, Jebreeet…, Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jenong, jadi jontor juga jendol… jeleekk.

“John, jangan jahilin Juminten…!” jerit Jack.

Jantungnya Johny jedot-jedotan, “Janji, Jack? Janji… Johnny jera,” jawab Johny. Jack jadikan Johny join
jualan jajan jejeran Juminten.

Johny jadi jongosnya Jack-Juminten, jagain jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja-Jombang, julukannya Jus Jengkol Johny “Jolly-jolly Jumper.” Jumpalagi, jek…!!!

Jeringatan: Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini jagi ja…!!!

JUSAH…!!!

· · · · · · · · · ·



Read More..

Sabtu, 2008 Desember 13

Leaf Area Density

Leaf Area Index (LAI) is the ratio of the foliage area to the ground area. The measurement of LAI is of fundamental importance in agricultural and ecological research because LAI is a measure of plant growth; it directly affects the interception and absorption of light by the canopy, and it influences the heat balance and evaporation from the landscape.

Methodology 1: Measurements

From ground and from space the Leaf Area Index of the vegetation can be obtained using optical methods. While this methods is relatively simple and fast, it does not provide information about the vertical distribution of the leaf area. To obtain this information empirically, the optical sensor must be placed in different levels inside the vegetation stand. Another method is to pick the leafs from the tree and measure the leaf area based on the collected material. There is an obvious drawback on the second approach related to the tree of interest, but it still is an option.

Methodology 2: Analytical Approaches

Analytical approaches can help in obtaining the LAD distribution especially if the LAI is known. There are a few papers worth while reading on that aspect:

Meir et al. (2000) provide some ideas how the LAD profile for a tropical rain forest might look like. Their paper is basically focusing on the measurement of LAD/LAI using a photographic method, but it is also useful for getting some ideas on LAD for tropical situations.
Attention: The profiles shown in their figures are normalized with the LAI. Before using them as profiles in ENVI-met, you have to re-calculate the absolute values.

Ross et al. (2000) present an empirical model which allows to calculate the distribution of LAD and LAI based on different probability functions. First they calculate the stem height of a plant and then the correlation of the stem height with the stem leaf area. Finally, the stem leaf area is distributed over the stem height and the LAD profile is calculated. However, this method requires some input data, namely the distribution coefficients for the leaf area to be known. This approach is especially useful if the effects of the growing period should be included in the model.

Stadt and Lieffers (2000) show in their paper how they get the plant characteristics for light transmission model for forest stands (MIXLIGHT). Especially Tab. 1 is very useful as it provides values for the LAD statistical distribution of different species.

Finally, a recent and very useful paper is presented by Lalic and Mihailivic (2004), which fits well with the Stadt and Liefers (2000) paper. Lalic and Mihailivic present a very simple and very general method to obtain an LAD profile from very few parameters: type, height and max LAD (which could be extracted for example from the Stadt and Liefers paper)

References:

Meir, P., Grace, J. and Miranda, A. C. (2000): Photographic method to measure the vertical distribution of leaf area density in forests, Agri.Forrest Met., 102, 105-111

Lalic, B. and Mihailovic, D. T. (2004): An empirical relation describing leaf-area density inside the forest for environmental modelling, J.Appl. Met. 43(4) 641-645

Stadt, K. J. and Lieffers, V.J (2000): MIXLIGHT: a flexible light transmission model for mixed-species forest stands, Agri. Forrest Met., 102, 235-252

Ross, J., Ross, V. and Koppel, A. (2000): Estimation of leaf area and its vertical distribution during growth period, Agri. Forrest Met. 101, 237-246




Read More..

Kamis, 2008 Desember 11

Mendidik anak..

Pepatah menyatakan "Anak adalah titipan dari yang kuasa" seperti juga pujangga besar Khalil Gibran, dalam sebuah puisinya yang sangat popular menyebutkan".... Mereka adalah putra putri kehidupan. Dari kita mereka ada...tetapi mereka bukanlah milik kita.....dst .
Sesungguhnya, setiap manusia (anak atau dewasa), memiliki hak-hak yang melekat sejak dia menghirup oksigen di muka bumi ini. ". Ironisnya, banyak orang tua yang sering memperlakukan anak-anak mereka dengan semena-mena, otoriter, dengan anggapan, sampai kapanpun anakku adalah anak-anak, yang harus menuruti segala kehendak orang tua. Walaupun yang disebut anak itu mungkin saat ini telah memiliki anak-anak mereka sendiri.

Orang tua = hakim ??

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, maka mendidik anak adalah seni kehidupan yang sangat unik dan spesifik.
Setiap hari menyaksikan ulah anak-anak, dan begitu kenakalan terjadi, hati dan pikiran kita bereaksi, mau diapain anak ini? Cukup diberi pengertian? Atau diperingatkan keras? Atau harus dicubit? Atau .....?
Saat itulah kita siap memvonis bagai seorang hakim. Maka, emosi, kebijaksanaan dan wawasan berpikir sebagai orang tua sangat menentukan, apakah anak merasa diperlakukan secara wajar dan adil oleh orang tuanya terhadap ulah mereka.

Pada sebuah seminar, ada seorang peserta yang bertanya tentang bagaimana kami mendidik anak? Dengan cara baru atau lama? Nah lho, mendidik anak dengan cara baru? (setiap anak melakukan kesalahan, cukup diberi pengertian). Dan cara lama? Dengan pukulan atau kekerasan! Menurut saya, mendidik anak tidak ada cara baru atau lama. Karena kita yang paling tau karakter anak-anak kita, maka cara apapun, asal tidak ekstrim, tidak masalah.

Apakah dalam mendidik anak perlu dipukul? Atau tindakan fisik?

Bagi saya, bila memang diperlukan, bisa saja dilakukan pemukulan (bukan dalam taraf membahayakan). Sekali lagi, kita lah yang paling tau karakter anak sendiri, selama niatnya baik dan kemudian diberi pengertian benar, saya yakin, sebuah pendidikan tidak berbatas pada vonis pemukulan berarti tindak kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi lebih dari itu, mendidik anak berarti menghantar mereka dalam pembentukan karakter dan kepribadian sebagai bekal menjadi diri mereka sendiri. Sehingga dikemudian hari, mereka mampu tampil sebagai pribadi yang baik, berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.

Karena setiap anak memiliki karakter khas yang berbeda satu sama lain, maka temukan metode dan mendidik anak sesuai dengan karakter mereka masing-masing sehingga anak tidak hanya mampu memperbaiki diri dari sebuah kesalahan tetapi juga terdorong untuk senang secara terus-menerus mengembangkan sisi baiknya.

Penutup.

Keluarga adalah basis pendidikan yang paling utama, dan orang tua merupakan figure utama pendidik dalam keluarga. Keteladanan orang tua merupakan pola pendidikan yang paling ringkas, simple dan efektif. Kasih sayang dan komunikasi antar anggota keluarga ditambah dengan contoh nyata dari figure orang tua merupakan unsur penting dalam mendidik buah hati kita. Orang tua yang luar biasa adalah orang tua yang disegani, ditaati dan diteladani oleh anak-anaknya.

Selamat mengarungi samudra pendidikan anak.
Salam sukses luar biasa !!!!

dikutip dari newslettermotivasi@andriewongso.com
Read More..

Rabu, 2008 Desember 10

Kabar dari Semarang (Kabar Bahagia - Dua)

Alhamdulillah..hari ini Allah memberi limpahan karuniaNya pada ku. Setelah pagi tadi aku mendengar kabar Bapak Ibu dari Tanah Suci, kali ini aku mendengar kabar membahagiakan dari Humaira-ku, istri tercinta-ku.
Siang ini Dia sms mengabarkan bahwa Dia telah memeriksakan kandungannya dan dari hasil periksa tersebut dinyatakan kondisi detak jantung janin normal. Alhamdulillah..Hati-ku sangat lega mengetahui kabar ini.

Saat ini kami memang tengah menunggu kehadiran buah hati kami yang kedua. Usia kehamilan Istri-ku telah mencapai usia 6 bulan. Davin, sulung kami, sudah tak sabar ingin segera menggendong adik-nya. Dia tampak bersemangat ketika sekitar 3 bulan yang lalu kami mengatakan bahwa di perut Bunda-nya ada adik. Sejak saat itu Kakak selalu bertanya kapan adik lahir?
Sebelum mengetahui kabar terakhir ini, kami sedikit khawatir dengan kondisi janin di perut istriku. Sudah hampir 2 minggu, sang janin belum kedut lagi. Padahal di usia segitu mestinya sudah semakin sering terasa kedutan-nya. Kekhawatiran kami bertambah manakala melihat kondisi perut istri-ku yang tidak terlalu dibandingkan teman - temannya yang juga hamil dengan usia kehamilan yang sama. Selain itu sekitar sebulan yang lalu Bunda Davin jatuh dari motor dengan posisi nyungsep alias perut dibawah. Makin bertambah lagi kekhawatiran itu.
Namun saat ini perasaan-ku lega. Kekhawatiran itu tampaknya tak perlu. Insya Allah janin di perut istriku sehat. Aku selalu berdoa memohon kesehatan dan keselamatan bagi semua, janin di perut istriku, istriku, Davin dan semuanya. AMIN..Aku juga mohon doa dari teman - teman yang kebetulan mampir ke blog ini.
Read More..